NTB, Satu dari Lima Gudang Beras Nasional

Di Indonesia terdapat lima provinsi sebagai lumbung beras nasional, termasuk Nusa Tenggara Barat (NTB), karena produksi beras NTB cukup melimpah.

Kepala Bulog Divisi Regional NTB Angky Rito kepada wartawan di Mataram, Sabtu (9/5), mengatakan, kelima daerah lumbung beras nasional itu yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan NTB.

Sebelum tahun 80-an, NTB dikenal sebagai daerah rawan pangan sehingga sering mendapat bantuan pangan dari daerah lain. Namun, setelah mengubah sistem bercocok taman dengan sistem gogo rancah (Gora), mulai 1985 NTB mampu berswasembada pangan sampai sekarang.

Sistem bercocok tanam dengan Gora adalah menggali atau menugal sawah dengan pacul atau linggis sebelum hujan turun di daerah tadah hujan yang sebagian besar terdapat di Kabupaten Lombok Tengah.

Menurut Perhitungan Angka Ramalan I tahun 2009, produksi padi NTB mencapai 1.792.697 ton gabah kering giling (GKG) meningkat sebesar 2,4 persen dari tahun 2008 sebesar 1.750.677 ton GKG.

Produksi padi NTB tersebut setara dengan sekitar 900.000 ton beras, sementara kebutuhan konsumsi beras NTB 550.000 ton, jadi NTB masih kelebihan beras lebih dari 300.000 ton.

Kelebihan beras NTB dipergunakan untuk membantu daerah lain, seperti Bali sebanyak 40.000 ton dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 21.000 ton. Sementara itu, Bulog NTB tahun 2009 merencanakan membeli 170.000 ton jauh meningkat dari tahun-tahun sebelumnya hanya 65.000 ton.

Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik NTB Mariadi Mardian mengatakan, luas panen padi tahun 2008 tercatat 359.714 hektar, terdiri atas 306.274 hektar padi sawah dan 53.4000 hektar padi ladang.

Luas areal panen tersebut mengalami peningkatan baik untuk padi sawah maupun padi ladang dibandingkan tahun 2007 seluas 331.916 hektar atau naik 8,4 persen.

Selain karena kenaikan luas panen, peningkatan jumlah produksi padi juga diakibatkan oleh naiknya produktivitas lahan padi. Produktivitas lahan padi meningkat dari 45,99 kuintal perhektar tahun 2007 menjadi 48,67 kuintal perhektar tahun 2008.

Produktivitas padi sawah mengalami peningkatan cukup tinggi, yakni dari 48,71 menjadi 50,85 kwintal perhektar, sedangkan padi ladang naik dari 27,40 menjadi 36,19 kwintal perhektar.

sumber : kompas.com

1 Response so far »

  1. 1

    mokhamad said,

    Alhamdulillah….
    sebaiknya konsep penanaman padi diarahkan ke konsep padi organik untuk ke depan…
    Sukses terus ya pak…

    dari : Ir.yan….http://architecture-indonesiagallery.blogspot.com


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: