Pengidap Diabetes Perlu Dipantau Selama Puasa

 KOMPAS.com  Bulan Ramadhan sudah di depan mata. Setiap umat Muslim akan segera menjalankan ibadah puasa. Namun sayangnya, ada beberapa kategori orang, yang mempertimbangkan keadaan kesehatannya, perlu lebih berhati-hati dalam memutuskan hendak berpuasa atau tidak.

Salah satunya ialah para penyandang diabetes mellitus (DM). Tak jarang kita dengar muncul pertanyaan apakah para penderita penyakit diabetes boleh berpuasa atau tidak.

“Itulah perlunya pasien datang ke dokter sebelum mulai berpuasa. Bila pasien berkenan puasa, ia juga harus berada di bawah pemantauan dokter,” tutur dr. Dante Saksono, Sp.PD, Ph.D pada acara simposium mini “Tetap Sehat dan Bugar Selama Bulan Ramadhan” di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Rabu (19/9).

Pada kesempatan tersebut, dr. Dante menjelaskan pembagian 3 tipe pasien DM. Pertama, tipe DM yang dapat berpuasa dengan resiko rendah. Ini adalah kelompok pasien diabetes yang selama ini masih mengontrol gula darah dengan diet saja, pula pasien diabetes yang hanya mengonsumsi satu jenis obat, dengan syarat mereka belum pernah mengalami komplikasi akibat diabetes-nya.

Kedua, tipe DM yang dapat berpuasa dengan resiko tinggi. Yang termasuk golongan ini adalah para pasien diabetes yang mengonsumsi dua jenis obat atau lebih, dan pasien yang menggunakan insulin dosis tunggal. Mereka perlu dipantau ketat.

Ketiga, tipe DM yang sama sekali tidak dapat berpuasa, yakni para pasien DM-1 (menderita diabetes sejak kecil), pasien DM yang telah menggunakan insulin dosis tinggi (lebih dari sekali/hari), pasien DM yang sedang dalam kehamilan, serta pasien DM yang memiliki komplikasi berat.

Menurut dr. Dante, para pasien DM yang dapat berpuasa juga harus bisa membaca tanda-tanda untuk membatalkan puasanya. “Harus diingat, bahwa tetap ada resiko. Jangan memaksakan diri,” tegasnya.

Pasien penyandang DM pun perlu pola makan yang baik untuk menyiasati kendala penyakit mereka. Konsumsi karbohidrat kompleks (seperti nasi, kentang, roti) disarankan untuk sahur. Sedangkan ketika berbuka, lanjut dr. Dante, kombinasikan karbohidrat sederhana (seperti buah-buahan) pada awal disusul dengan karbohidrat kompleks.

Selain itu, waktu dan dosis obat wajib diatur secara pasti bersama dokter, terutama untuk para pasien DM yang mengonsumsi lebih dari 2 macam obat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: