Menularkan ‘Perilaku Menyimpang’ untuk Atasi Gizi Buruk

Ada banyak cara untuk mengatasi masalah gizi buruk di suatu wilayah, namun belum tentu efektif ketika diterapkan di wilayah lain. Karenanya, ahli gizi masyarakat menganjurkan solusi unik yakni dengan menularkan ‘perilaku menyimpang’.

Pendekatan ini didasarkan pada kebiasaan-kebiasaan yang dianggap menyimpang atau unik di suatu wilayah. Meski diistilahkan menyimpang, penyimpangannya tidak mengarah ke hal yang negatif melainkan ke arah positif sehingga disebut ‘positive deviance‘.

Ahli gizi masyarakat dari Universitas Indonesia, Ir Asih Setiarini, MSc menjelaskan bahwa pendekatan itu cukup efektif meningkatkan status gizi suatu masyarakat. Bersama timnya di Positive Deviance Resource Center (PDRC), Ir Asih sudah membuktikannya di sejumlah daerah.

“Dalam satu wilayah yang mengalami masalah gizi buruk, tentu ada satu atau dua yang masih sehat. Nah, yang sehat itu pasti punya ‘positive deviance’ yang bisa ditularkan,” ungkap Ir Asih usai peluncuran Tango Peduli Gizi 2011 di Pejaten Village, Jakarta Selatan, Jumat (22/7/2011).

Sebagai contoh, Ir Asih menyebutkan kebiasaan makan siput sebagai salah satu perilaku menyimpang yang positif. Dalam satu kasus yang ia temukan di Cianjur Jawa Barat, anak yang mengonsumsi siput sawah tetap sehat meski anak-anak lain di lingkungannya mengalami gizi buruk.

Perilaku menyimpang di tiap daerah bisa berbeda, misalnya ada satu kasus di wilayah lain yang anaknya tetap sehat karena banyak makan teri. Di wilayah lainnya lagi, ada yang menambahkan santan saat memberi makan sayur pada anaknya sehingga tidak kena gizi buruk.

Kebiasaan-kebiasaan seperti itu diidentifikasi, kemudian ditularkan melalui program Pos Gizi. Dengan dikoordinir oleh Posyandu, ibu-ibu di wilayah tersebut dikumpulkan lalu kebiasaan yang menyimpang tadi diperkenalkan dalam kegiatan tersebut.

Selain memperkenalkan kebiasaan menyimpang berikut penjelasan ilmiahnya, program ini juga memperkenalkan cara-cara memasak yang benar sehingga nutrisinya tidak hilang. Setelah berjalan 12 hari, program dievaluasi dan hasilnya sejauh ini diakui oleh Ir Asih sangat memuaskan.

“Masalah lain yang turut memicu kurangnya asupan makanan bergizi adalah pengetahuan masyarakat untuk mengolah makanan masih kurang, khususnya di daerah-daerah terpencil. Di suatu wilayah, masyarakat tidak tahu kalau daun singkong itu bergizi sehingga cuma dijadikan makanan babi,” ungkap Ir Asih.

http://www.detikhealth.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: