Memetakan Kondisi Gizi Anak Indonesia

Tidak tersedianya data yang akurat mengenai statistik demografi Indonesia, termasuk dalam bidang kesehatan dan gizi, sudah lama menjadi masalah di negeri ini. Padahal, akurasi data adalah sebuah keharusan sebagai basis kebijakan dan intervensi pemerintah.

Memang secara rutin pemerintah, juga Departemen Kesehatan melakukan survei untuk mengetahui masalah dasar kesehatan penduduk. Akan tetapi hingga saat ini belum ada data yang komperhensif dan validitasnya diakui.

Contoh paling nyata adalah mengenai angka kematian ibu melahirkan. Data resmi Pemerintah Indonesia berdasarkan Statistik Demografi Kesehatan Indonesia adalah 228/100.000 kelahiran hidup.

Namun, lembaga-lembaga internasional, seperti Bank Dunia, menyatakan, angka kematian ibu melahirkan masih tinggi, yaitu 420/100.000 kelahiran hidup.

DR.Sandjaja, dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, Badan Litbang Kesehatan, Depkes, menyebutkan survei-survei yang pernah dilakukan pemerintah pada umumnya masih menyisakan celah.

Misalnya saja berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, prevalensi kekurangan gizi pada anak balita komposisinya sekitar 13 persen anak mengalami gizi kurang dan 4,9 persen gizi buruk. Tetapi yang diukur sebenarnya hanya tinggi badan dan berat badan anak saja.

“Kita tidak tahu berapa data terbaru mengenai jumlah anak yang anemia, kurang yodium, kurang vitamin A atau pun mengenai kemampuan kognitif anak,” paparnya di Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (18/10/11) saat melakukan media briefing mengenai pelaksanaan studi South East Asia Nutrition Survei (SEANUTS).

Jumlah anak balita saat ini sekitar 12 persen (sekitar 28,5 juta jiwa) dari total penduduk, yang berdasarkan Sensus Penduduk 2010 sebanyak 237,6 juta jiwa. Kelompok penduduk ini juga rentan terhadap masalah nutrisi dan kesehatan.

Ditambahkan oleh Sandjaja, untuk membuat sebuah program intervensi nutrisi terkait pengembangan anak dan kekurangan gizi, tentu diperlukan sebuah survei dasar untuk memperoleh informasi mengenai masalah nutrisi, terutama kekurangan nutrisi mikronutrien.

“Data-data mengenai kekurangan mikronutrien seperti vitamin A, B, D, asam folat, atau zinc di Indonesia sangat terbatas,” kata ketua Penelitian dan Pengembangan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) ini.

Bekerjasama dengan Frisian Flag Nutrition Institute, PERSAGI melakukan SEANUTS yang diluncurkan sejak awal Januari 2011. Menurut Anton Susanto, corporate communication manager Frisian Flag Indonesia, studi tersebut merupakan inisiatif Royal FrieslandCampina, induk perusahaan Frisian Flag Indoensia, sebagai upaya untuk memahami secara mendalam status gizi dan pola makan anak-anak Asia Tenggara.

“Pada dasarnya kami ingin memperoleh pemahaman mengenai status gizi anak dan kami ingin menghadirkan produk yang paling cocok dengan status gizi anak-anak saat ini,” katanya dalam acara yang sama.

SEANUTS dilakukan di empat negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia pengambilan sampel secara nasional dilakukan di 48 kabupaten di 25 provinsi dengan 7.200 responden anak usia 6 bulan sampai 12 tahun.

Pengukuran rinci

Menurut Sandjaja, SEANUTS merupakan studi gizi paling komperhensif pertama di Indonesia. “Selain melakukan pemeriksaan anthropometry kami juga melakukan pengambilan sampel darah untuk mengetahui status gizi anak,” katanya.

Secara umum aspek yang dinilai dalam SEANUTS meliputi, status gizi dan pertumbuhan anak melalui komposisi anthropotmetry dan tubuh, asupan makanan dan pola makan menggunakan aktivitas fisik, konsenstrasi serum lipid dan serum mikronutrien, kepadatan tulang anak menggunakan teknik ultrasound kualitatif, serta fungsi pengembangan dan kognitif anak.

Untuk pengukuran aktivitas fisik, setiap anak yang menjadi responden dipasangi pedometer untuk mengetahui jumlah langkah anak dalam satu hari sehingga bisa diketahui tingkat pengeluaran kalori anak. Sementara itu untuk mengetahui asupan makanan dan pola makan, tim peneliti terjun ke rumah-rumah melakukan wawancara pada ibu atau ayah responden.

“Metodologi survei ini sudah sesuai dengan standar internasional karena kami ingin menyajikan informasi yang data dan validitasnya tidak bisa dipertanyakan lagi,” imbuhnya.

Nantinya, semua data yang dikumpulkan dari studi gizi ini akan diproses dan dianalisa oleh para ilmuwan dari PERSAGI. Studi yang menghabiskan dana Rp 9,5 Miliar di Indonesia ini rencananya akan selesai dan diumumkan hasilnya pada triwulan kedua tahun 2012.

http://health.kompas.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: